This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 31 Maret 2011

aakkuu

Kamis, 17 Maret 2011

SESIRNA KEMILAU SENJA

( BY: ANGGUN DHERTI VETAYANI)

Rembulan yang bersinar bagai intan yang memancarkan kilaunya. Desahan angin kecil mengibaskan rambut panjang Romlah yang terurai panjang. Dia duduk di bawah pohon akasia di depan rumahnya sambil menunggu pujaan hati tercintanya.
“ Akang cepatlah datang, tidakkah kau tahu bahwa aku merindukan mu.”
Ia berharap sambil menatap bulan yang seolah mampu mendengarnya.
Tak lama kemudian, sesosok manusia tampak dari kejauhan mengenakan kemeja rapi dengan sepeda ontel tuanya. Hati Romlah makin penasaran di buatnya, apakah itu si Katiman lelaki tampan pujaan hatinya? Pertanyaan itu pun terjawab ketika sosok itu menghampirinya.
“ Romlah ini akang, akang datang untuk mu sayang ,” sahut Katiman sambil melambai-lambaikan tangannya.
“ Akang ternyata akang mendengar panggilan hati Rom kang, Rom dari tadi di sini menunggu akang.” Kata Romlah.
“ Tentu sayang, akang pun begitu. Tumben kamu duduk di depan sendirian, kemana abah dan emak ?” tanya Katiman.
“ Mereka sedang mengantar Abdul berobat, tiba-tiba saja Abdul tadi mendadak demam tinggi kang ,” kata Romlah.
“ Pantas saja sepi sekali rumah kamu Rom, kalau saja abah mu ada pasti aku sudah di usirnya sedari tadi,” ujar Katiman dengan nada pelan sedikit kecewa. Sesaat suasana hening, mereka pun duduk berdua di bawah pohon tempat Romlah duduk tadi. Andaikan orang tua mereka merestui hubungan mereka, pasti mereka tidak perlu diam-diam begini saat ingin bertemu. Seperti maling yang menyelinap di tengah-tengah kelengahan orang. Selalu saja begitu, Romlah dan Katiman memanfaatkan kesempatan.
“ Akang sampai kapan kita terus begini, sampai kapan kita sembunyikan hubungan ini,” Tanya Romlah membuka pembicaraan.
“ Sampai orang tuamu mau menerima aku, itu pun kalau kau setia menunggu ku, aku akan buktikan kepada orang tua mu kalau aku akan menjadi orang yang sukses dulu, baru aku berani meminang mu,” jelas Katiman.
“ Tapi aku akan menerima mu apa adanya kang, walaupun nanti hidup kita sederhana, asalkan kita bahagia, harta tak mampu menjamin kebahagiaan kang, banyak pejabat tinggi yang memiliki harta melimpah, tapi mereka tak mampu saling jujur dan terbuka hingga akhirnya mereka terpeleset ke dalam jurang perselingkuhan,” jelas Romlah.
“ Itu kata mu Rom, tapi tidak untuk orang tua mu, lagi pula tanpa restu mereka kebahagiaan yang kita impikan itu tak kan pernah mampu terwujud sayang,” jawab Katiman sembari memegang tangan Romlah.
“ Kalau begitu, jika abah dan emak tetap tidak merestui kita apa akang rela begitu saja ?” Tanya Romlah dengan nada serius.
Ketegangan mulai tampak terasa, pembicaraan mereka mulai tampak serius.
“ Tentu tidak sayang, akang pasti akan mewujudkan impian kita untuk selalu bersama hingga masa senja kita. Semakin kuat akar suatu pohon pasti makin besar pula badai yang menerjangnya. Begitupun dengan kita,” jawab Katiman sembari mencairkan suasana.
Katiman mengusap kening Romlah. Bintang pun seolah bahagia melihat kemesraan mereka. Bulan pun ikut mengintip malu-malu di balik kerumunan awan.
Tak terasa waktu pun cepat berlalu, suara motor tua abahnya terdengar jelas dari kejauhan. Apalagi di malam yang begitu sepi. Romlah pun segera menyuruh Katiman pulang . jangan sampai mereka kepergok duduk berdua.
“ Akang itu suara motor abah, akang harus cepat – cepat pulang, aku tidak mau abah melihat kita disini, “ kata Romlah cemas.
“ Baik Rom, akang akan pulang, jaga dirimu baik – baik ya ? ” kata Katiman.
“ Iya akang, akang hati – hati ya “ jawab Romlah sambil bergegas lari masuk kedalam rumah.
“ Iya Rom, ketahuilah akang sangat menyayangimu, “ sahut Katiman agak menjerit. Namun Romlah sudah keburu menutup pintu rumahnya, dan menuju kamarnya seolah – olah dia sudah tidur ketika abah, emak, dan adiknya pulang.
Dung dung dung dung…
Suara knalpot tua dari motor tua warisan kakeknya dulu. Seketika suara itu ilang disambung dengan suara dencitan sepatu dan engsel pintu.
“ Teh Rom, emak pulang, apa kamu sudah tidur nak ? “ ujar emaknya tapi tidak ada suara yang menyahut dari dalamnya.
“ Padahal emak bawakan martabak keju kesukaanmu, “ sambung emaknya.
Tiba – tiba . . .
“ Rom belum tidur kok mak, tadi sedang mendengarkan radio jadi tidak terdengar, “ teriak Romlah sambil beralasan ketika mendengar emaknya membawakan martabak keju.
“ Hmmm . . .dasar kamu itu, dibilang bawa martabak saja langsung lari dari ranjang,” ledek emaknya.
“ Hehehe . . .ya emak kan tahu itu kesukaan Romlah,” ujar Romlah sambil malu – malu.
Malam itu Romlah serasa ada dipuncak surga. Keinginannya ingin bertemu Katiman terwujud dan dapat bonus martabak keju dari emaknya. Ini mungkin yang disebut pucuk dicinta ulam pun tiba.
Keesokan harinya seperti biasa Romlah bangun saat adzan shubuh berkumandang. Ia selalu hanyut dalam lantunan kumandang adzan yang diserukan Katiman.
“ Akang kau memang malaikat penjagaku, “ lirihnya dalam hati sambil tersenyum.
Segera ia mengambil air wudlu dan sholat shubuh. Tak lupa setelah sholat iapun membaca beberapa ayat Al – qur’an yang mampu menyejukkan hatinya tatkala fajar menjelang. Iapun selalu berdo’a agar Tuhan mau membukakan pintu hati orang tuanya untuk merestui hubungannya dengan Katiman.
Lesung padi dan kokok ayam mulai terdengar, pertanda emaknya sudah bangun. Romlah pun langsung menuju kedapur,” emak sudah bangun? Sini biar Romlah saja yang menumbuk padi, emak segera sholat dulu saja.”
“ Emak tadi sudah sholat nak. Kamu pergi saja kepasar belikan emak ikan asin kesukaan abahmu, “ perintah emak.
“ Emmm. . . . baik mak. Rom pergi sekarang selagi masih pagi dan udarapun masih sejuk, lumayan sekaligus penyegaran, “ kata Romlah sambil mengambil tas belanjanya yang tergantung diatas pintu dapur.
Diperjalanan menuju kepasar Romlah bertemu dengan Katiman.
“ Assalamu’alaikum Romlah, kamu mau kepasar ? ” Tanya Katiman sambil basa – basi.
“ Wa’alaikumsalam, iya kang Romlah diminta emak untuk membeli ikan asin kesukaan abah,“ jawab Romlah.
“ Oh begitu, bolehkah akang mengantarmu ? “ kata Katiman member tawaran sembari membungkukkan badannya seolah cerita disinetron.
“ Dengan senang hati akang, asalkan abah tidak melihat kita, “ jawab Romlah tersenyum sembari khawatir.
“ Tenang saja, pasti abahmu sekarang sedang memandikan burung perkutut kesayangannya itu, “ kata Katiman meyakinkan.
“ Benar juga kata akang, tapi kita harus tepat waktu kembalinya, “ jawab Romlah.
“ Tenang saja, akang kan hanya ingin mengantarkan permaisuri akang kepasar, ayo naik! ” katanya sambil menoleh kearah boncenga sepeda tuanya.
Mataharipun sedikit mulai menampakkan rupanya. Cahayanya yang mulai menyilaukan membuat tetes – tetes embun didedaunan tampak seprti intan yang berkilauan. Kemicau indah nyanyian burung melenyapkan segala kesunyian pagi itu. Orang – orang pun mulai beraktifitas seperti halnya Romlah dan Katiman yang sudah kembali dari pasar dan memulai aktifitas mereka masing – masing.
Katiman yang sedang membantu abahnya disawahswdikit mulai merasa lelah. Ia bergegas menuju saung di tengah sawahnya. Abahnya pun sudah menunggunya untuk menyantap hidangan yang dibuat emaknya. Tiba – tiba di tengah – tengah saat makan abahnya memulai percakapan, “ Man, apa kamu sekarang masih berhubungan denga Romlah si anak juragan kikir itu ? “
“ Maksud abah Juragan Somad ? “ jawab Katiman sembari tersentak mendengar pertanyaan abahnya.”
“ Iya, dengar nak, jauhilah Romlah dari sekarang, kita ini hanya orang miskin, kamu tahu kan abahnya itu hanya memikirkan harta, harta dan harta ! “ Kata abahnya.
“ Iya bah, Man juga tahu, tapi kan . . . . “ belum selesai ia berkata.
“ Sudah dengarkan abah, urungkan niatmu untuk mempersunting Romlah, “ potong abahnya.
Katiman hanya terdiam dan mencerna dalam – dalam perkataan abahnya itu. Apakah mungkin harta mampu mengalahkan ketulusan cintanya terhadap Romlah. Seribu tanda Tanya berkemelut dipikiran Katiman. Jalan mana yang harus ia pilih untuk mampu mempertahankan cintanya terhadap Romlah.
Keesokan harinya, ada seorang wanita paruh baya keluar dari mobil sedan hitam yang berhenti di depan rumah Romlah. Dari penanmpilannya sepertinya dia orang kota. Ternyata wanita itu adalah teman lama abahnya yang kabarnya kini menjadi pengusaha kafe besar di Jakarta.
“ Somad ! “ teriak wanita itu.
Juragan Somad yang sedang mengelus – elus burung kesayangannya itu terkejut, “ maaf anda ini siapa ? seenaknya berteriak memanggil saya.! “
Ia tersinggung dengan kata – kata wanita itu, karena tidak ada satu orang pun yang berani memanggilnya tanpa sebutan juragan.
“ Aku Susi teman lamamu dulu, “ kata wanita itu.
Mendengar penjelasan itu barulah Juragan Somad mamou membuka memori – memori lamanya dan teringat dengan nama Susi. Susi adalah nama teman sepermainannya semasa SMA. Akhirnya ia pun mempersilahkan Susi masuk dan memperkenalknannya kepada anak dan istrinya.
“ Wah anak perempuanmu cantik sekali, “ sahut Susi kagum melihat pesona aura Romlah.
“ Tentulah abahnya saja ganteng, “ jawab Juragan Somad sambil mengangkat – angkat alis matanya.
“ Siapa namamu sayang ? ‘ Tanya Susi kepada Romlah.
“ Romlah bu,” jawab Romlah.
“ Jangan panggil bu, panggil saya tante, “ kata Susi.
“ oh iya bu, maaf tante maksud saya, “ jawab Romlah terbata – bata.
Tiba – tiba tersirat dibenak Susi untuk mengajak Romlah dengannya. Ia ingin menjadikan Romlah salah satu pekerjanya yang mampu membawa keuntungan besar untuknya. Ia pun mengiming – imingi nilai rupiah besar terhadap Romlah. Romlah sama sekali tidak tertarik dengan tawaran itu, baginya masukan sebagai guru TK didesanya sudah cukup. Namun abahnya yang selalu haus harta memaksa Romlah untuk mau menerima tawaran itu. Susi memberi waktu tiga hari kepada Romlah untuk mempertimbangkan tawarannya itu.
Malam harinya dimeja makan . . . .
“ Rom, bagaimana kamu sudah mempertimbangkan tawaran teman abah tadi, “ Tanya Juragan Somad sambil menyantap hidanga makan malamnya.
“ Sudah bah,” jawab Romlah tanpa panjang lebar.
“ Bagus, kamu setuju kan?” Tanya Juragan Somad kepada putrid sulungnya itu.
“ Tidak,” Jawab Romlah tanpa berkomentar.
“ Kamu bodoh! “ umpat abahnya sambil menggenrakan meja. Seketika emak Romlah dan adiknya kaget .
“ Abah ini apa-apaan sih, bisa tidak abah sedikit lebih halus dengan anak sendiri” Kata istrinya.
“ Nasehati anak mu itu bagaimana agar bisa membahagiakan orang tua !” ketus Juragan Somad.
“ Pokoknya Rom tidak mau abah!” tegas Romlah.
“ Kamu benar-benar tidak tahu diuntung! Setidaknya kamu bisa membalas budi terhadap orang tua mu ini dengan uang yang tidak sedikit jumlahnya dari pekerjaan yang di tawarkan teman abah itu,” kata juragan Somad.
“ Abah masih kurang dengan semua ini? Selalu uang dan uang yang abah pikirkan,” Jawab Romlah.
“ Dasar kau anak kurang ajar!” umpat abahnya sembari berdiri dan mengangkat tangannya yang ingin diarahkan ke pipi mulus Romlah.
Namun Romlah pun segera bergegas lari menuju kamarnya. Dia merasa hidupnya penuh dengan beban. Abahnya tidak pernah mau menerima hidup ini walaupun semua sudah tercukupi. Semua selalu kurang dan kurang. Sampai ia pun tega dengan anaknya sendiri. Padahal gaji Romlah tiap bulan sebagai guru TK saja sudah semuanya ia berikan ke abahnya.
Tiba-tiba terdengar ada yang membuka pintu kamar Romlah. Siapa lagi kalau bukan emaknya yang selalu memberikan kesejukan tiap Romlah merasa gundah gulana.
“ Emak,” lirih Romlah sambil memeluk emaknya.
“ sudah sayang, tidak ada yang perlu kamu tangisi,” tutur emaknya dengan lembut sambil mengusap rambut Romlah.
“ Iya mak, tapi Rom merasa hanya akan membebani abah dan emak,” kata Romlah.
“ Kamu itu anak emak sayang, lagi pula emak juga tidak terlalu setuju dengan keputusan abah mu itu, sifat abah mu dari dulu memang sudah keras kepala,” kata Emaknya.
Sebenarnya hati kecil emaknya merasakan sebuah kejanggalan dengan tawaran pekerjaan yang di berikan oleh Susi teman suaminya itu. Ia juga tidak merelakan jika anaknya bekerja dengannya, apalagi jenis pekerjaannya tidak dijelaskan secara jelas. Tentu saja hati seorang ibu itu sangat peka dengan perasaan dan keselamatan buah hatinya.
Malam pun kembali larut. Dinginya merasuk, dan menusuk-nusuk inci demi inci tulang dalam tubuh setiap orang yang masih terjaga. Semua orang hanyut dalam mimpiya masing-masing. Mimpi yang membuat hidup ini lebih berarti. Mimpi yang selalu menjaga hari ini dan hari esok seakan lebih berwarna. Dan Romlah pun berniat esok akan di jadikannya momentum untuk bertemu sang pujaan hatinya.
Kasihan sekali Romlah, dari kecil ia memang tergolong anak yang cerdas, pendiam, polos, dan selalu menuruti perkataan orang tuanya. Tapi abahnya sendiri tidak pernah mau mengerti perasaan Romlah.
Hari ini Romlah berniat ingin menemui Katiman di sawah tempat biasa Katiman membantu orang tuanya.
“ Akang!” Teriak Romlah dari seberang sawah sambil melambai-lambaikan tangannya.
“ Romlah??” lirih Katiman terkejut, dan langsung menghampiri Romlah.
“ Akang, Rom ingin bicara dengan akang,” kata Romlah dengan pandangan serius.
“ Bicara tentang apa Rom? Apa kamu tidak takut ketahuan abah mu sedang bicara dengan ku?” Jawab Katiman.
“ Sudahlah kang, sudah kepalang tanggung saya sampai disini kang,” kata Romla
Romlah pun menjelaskan semua kejadian yang terjadi, ia pun berniat sekaligus berpamitan dengan Katiman.
“ Apa?” Katiman terkejut.
Romlah hanya mengangguk dan terdiam sambil menangis.
“ Kamu akan pergi meninggalkan aku?” lanjut Katiman.
“ Iya kang, ini semua memang pilihan yang berat untuk Rom kang,” Jawab Romlah sambil meneteskan air matanya.
“ Kenapa abah mu setega itu dengan mu Rom?” kata Katiman prihatin.
Romlah kembali hanya terdiam.
“ Tapi jika itu memang yang terbaik menurut mu, aku tak kuasa untuk menahan mu, meski hati ini berat untuk membiarkanmu pergi,” kata Katiman sambil menatap Romlah penuh arti.
“ Akang jangan khawatir, Rom pastii kembali untuk akang,asalkan akang masih setia menunggu Rom, kang,” kata Romlah.
Tiba-tiba terdengar suara orang yang sudah tidak asing lagi,” Bagus! Ternyata ini alasan mu kenapa kamu menolak tawaran teman abah kemarin?”
“ Abah?” kata Rom terkejut.
“ Ternyata kamu lebih memilih laki-laki miskin ini ketimbang menuruti oerkataan abah mu ini!” bentak Juragan Somad.
Katiman sedikit tersinggung dengan kata-kata setajam belati yang keluar dari mulut juragan kikir itu. Namun Katiman tidak mau langsung ambil tindakan, baginya itu sama saja melawan orang yang tidak kenal bahasa manusia. Romlah pun langsung di tarik pulang oleh abahnya.
Sesampainya di rumah, Romlah menjelaskan maksudnya menemui Katiman. Namun sama sekali tidak dihiraukan oleh abahnya. Tapi ketika Romlah berkata bahwa ia menyetujui perintah abahnya dan meninggalkan tugasnya sebagai guru TK, barulah abahnya mulai menatap Romlah.
“ Apa kau yakin dengan kata-kata mu?” Tanya abahnya.
“ Iya bah, toh walaupun Rom berkata tidak yakin tentu abah tidak mau menerimanya, Rom hanya ingin melihat abah bahagia,” ujar Romlah.
Matahari mulai menuju singgasana peristirahatannya. Mega merah yang membentang seolah pertanda malam kan datang. Romlah menyiapkan semua barang-barang yang akan dibawanya esok hari ke kota. Ini adalah malam terakhirnya duduk bersama menyantap hidangan makan malam bersama keluarganya. Ntah mengapa perasaannya mengatakan seolah-olah ini terakhir kalinya ia mampu menatap wajah-wajah orang yang begitu ia cintainya itu.
Waktu pun bergulir teamat cepat, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam terasa amat begitu cepat. Kini tiba saatnya Romlah pergi menuju tempat barunya. Sedan hitam sudah terparkir di depan rumahnya. Berat sekali rasanya melangkahkan kaki untuk meninggalkan kampung halamannya itu. Sebelum ia pergi Romlah berpesan pada ibunya, ”Mak, apabila nanti Rom kembali, emak harus tersenyum menyanbut kedatangan Rom, sudah emak tidak usah menangis lagi ya.”
Namun disisi lain abahnya sama sekali tidak ada rasa penyesalan melepas kepergian anaknya. Ia malah meminta Romlah agar mempercepat keberangkatannya dan segera mampu mengirimkan uang untuknya.
Romlah juga pun berpesan kepada abahnya,” Bah, apapun perintahnya Rom akan berusaha menuruti kata-kata abah, apapun resikonya biarkan rom yang menanggung aslakan Rom mampu membalas budi abah selama ini, tapi abah harus ingat juga, harta hanya titipan Yang Kuasa, tidak sepantasnya abah selalu menagungkannya.” Namun sedikit pun perkataan yang di keluarkan Romlah tidak digubrisnya. Lain halnya dengan Katiman, pemuda itu hanya mampu melihat kepergian pujaan hatinya itu dari kejauhan saja. Akhirnya Romlah pun masuk ke dalam mobil sedan itu, sesaat bayangannya pun hilang di bawa sedan yang melesat cepat itu.
Di tengah perjalanan, hampir tiga perempat perjalanan tepatnya, sedan itu tiba-tiba berbelok ke sebuah salon. Tante Susi berniat ingin merubah penampilan Romlah yang terlihat kusam itu. Alasannya, pelayan di kafenya itu harus selalu tampil cantik dan rapi dihadapan pelanggannya. Tapi saat Romlah diminta untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang minim kain Romlah seketika menolak. Tante Susi pun memaksa, karena ini juga merupakan salah satu persyaratan pekerjaannya. Romlah mulai curiga. Ia berharap semua kecurigaannya itu salah.
Gemerlap lampu kota nampak jelas ketika Romlah berada didalam mobil sedan itu. Sebuah rumah mewah tampak terlihat dihadapannya. Mobil itupun membelokkan setirnya dan masuk kedalam halaman rumah tersebut yang garasinya sudah terbuka lebar. Ketika masuk kedalam rumah megah itu, Romlah terkejut. Keadaan dalam rumah itu tak seindah luarnya. Ruang demi ruang dalam rumah itu tampak remang – remang. Tercium jelas bau – bau alcohol yang menusuk hidung. Beberapa pasang mata pun terlihat tertuju pada datangnya primadona baru di istana itu. Firasat Romlah makin tidak enak. Romlah pun dipersilahkan untuk istirahat disebuah kamar. Dia diantar oleh tante Susi. Romlah pun bertanya pada tante Susi, “ tante, sebenarnya ini tempat apa ? “
“ Sudah kamu tenang saja, ini rumah tante sekaligus tempat kerjamu, dan dikamar ini merupakan salah satu ruang kerjamu, “ jawab tante susi.
“ Maksud tante ? “ tanya Romlah tak mengerti.
“ Sudahlah bukankah kamu ingin menuruti kemauan abahmu yang kolot dan bodoh itu, “ kata tante Susi sambil tertawa
Romlah benar – benar takut saat ini. Ia berdo’a mudah – mudahan Tuhan selalu menjaga dirinya demi niat baiknya menuruti permintaan abahnya.
“ Malam ini kamu boleh istirahat, tapi besok kamu malam kamu harus mulai bekerja, “ kata tante Susi sambil menutup pintu kamar Romlah.
“ Kenapa waktu jam kerja saya malam tante ? “ tanya Romlah
“ Kamu itu jangan banyak Tanya ! “ bentak tante Susi
Sebelum tidur, Romlah pun mengambil air wudhu dan sembahyang memohon agar Tuhan selalu melindungi tiap langkahnya. Tetes air matanya pun tak kuasa ia tahan saat ia mencurahkan semua isi hatinya kepada Yang Kuasa. Romlah pun berdo’a agar Tuhan memberikan hidayah kepada abahnya ia juga berharap semoga ia bisa membalas jasa abahnya.
Selesai sembahyang direbahkannya tubuhnya ke sofa dipojok tempat tidurnya. Tak terasa matanya pun mulai terpejam, karena kantuk dan lelah yang mulai menyerang. Ia berharap Tuhan masih memberikan umur panjang untuknya, sampai ia mampu menuruti kemauan abahnya. Iapun terbawa hanyut dalam mimpinya bersama Katiman yang akan menemaninya dimasa senjanya.
Keesokan harinya Romlah pun terbangun, ia keluar dari kamarnya. Betapa terkejut hati Romlah melihat botol – botol khamer berserakan.
“ Tempat apa ini sesungguhnya ini ya Allah, “ kata romlah
Salah seorang wanita menyapanya,” Hey kau apa kau primadona baru disini?”
Romlah tidak mengerti akan maksud kata – kata wanita itu,” Maksud anda apa ya?”
“ Bukankah kau pekerja baru disini yang tante Susi ceritakan padaku, kenalkan namaku Gina,” kata wanita itu sambil menyodorkan tangannya
“ Mbak Gina, saya Romlah mbak, “ sahut Romlah penuh kepolosan.
“ Tidak usah pakai mbak, saya masih muda kok. Panggil saya Gina, “ katanya memperjelas.
“ Emmm . . . . ia Gina,” kata Romlah.
“ Selamat datang ya disini, mudah – mudahan kehadiranmu tidak membawa petaka bagiku, “ kata Gina ketus.
“ Petaka? Sebenarnya saya ini akan diberikan pekerjaan apa? Bukankah kita disini sama – sama mengais rizqi dari Tuhan,“ kata Romlah.
“ Tidak pantas kau sebut nama Tuhan disini, kita ini orang – orang yang paling dibenci Tuhan,” kata Gina
“ Dibenci? Bisa kau perjelas maksud kata – katamu itu,” pinta Romlah
“ Sudahlah nanti juga kau akan mengerti maksudku, yang penting kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dengan uang,” jawab Gina.
Romlah makin bingung dengan kata – kata Gina tadi. Ia semakin penasaran dengan pekerjaan yang akan ia dapatkan. Apapun pekerjaan itu, dia sudah terlanjur janji dengan abahnya. Dan ia berharap mudah – mudahan pekerjaannya sesuai dengan yang diharapkan.
Kini sinar surya berganti rembulan. Kicau burung berubah menjadi dencitan kelelawar. Tante Susi masuk kekamar Romlah.
“ Romlah Romlah . . . ,” sambil mengetuk pintu kamar Romlah.
Romlah pun membukanya,” ada apa tante?”
“ Cepatlah kau bersolek, kini waktunya kamu bekerja, tamu – tamumu telah menanti, “ kata tante Susi.
“ Tante apa yang harus saya lakukan?” kata Romlah
“ Ayo cepat ikut aku,” kata tante Susi.
Romlah pun mengikuti perintah tante Susi, diajaknya Romlah menemui tamu – tamunya.
“ Romlah, kamu harus mau melayani dan menemani serta menuruti apa kemauan mereka, “ ujar tante Susi.
“ Tante, sebenarnya ini apa mana pekerjaan saya? “ Romlah mulai mengerti dan ketakutannya pun mulai menjadi – jadi.
“ Iya, ini pekerjaanmu, jika mala mini kamu mampu melayani mereka, besok kamu sudah bisa mengirimi abahmu yang mata duitan itu dengan jumlah yang cukup besar, paksa tante Susi.
“ Maaf tante tapi saya tidak sehina ini saya masih punya harga diri. Pulangkan saya kerumah abah malam ini juga, “ pinta Romlah sambil menangis
“ Apa kamu bilang! Plaaak . . . ! ” Tamparan mendarat dipipi mulus Romlah.
Romlah makin menangis tersedu – sedu, ia tidak mungkin merelakan kehormatannya sebagai wanita. Tapi karena terus dipaksa dan terus disiksa, akhirnya Romlah pun pingsan. Pipinya memar – memar karena ditampar berkali – kali oleh tante Susi atas dasar karena Romlah tidak mau menuruti kata – katanya. Romlah pun benar – benar tidak sadarkan diri. Romlah dipaksa untuk meminum minuman haram itu. Romlah benar – benar seperti orang tak bernyawa lagi.
Disaat Romlah mulai sadarkan diri, ia masih terbaring lemas tak berdaya. Ia sama sekali tidak mengingat kejadian yang menimpanya. Yang ia sadari sekarang adalah tak sehelaipun benang menutupi tubuhnya. Ia langsung menarik selimut yang ada didekatnya. Ia pun menangis, dilihatnya segepok uang bernilaikan 15 juta tergeletak diatas dadanya. Isak tangis yang makin menjadi-jadi bagai halilintar yang menyambar – nyambar kepiluan hatinya.
“ Kini sirna sudah kemilau impian yang akan kurajut diusia senjaku, “ Rintihnya lirih
“ Tuhan, kini aku sudah hina, aku sudah kotor, apa aku masih pantas menjadi hambamu ?” Katanya benar – benar terisak.
Akhirnya Romlah berpikir, ini memang sudah takdirnya. Penderitaan serta cobaan harus dihadapi. Iapun membersihkan dirinya, setelah itu ia lakukan sholat taubat memohon pengampunan Sang Pencipta. Ia memohon disaat ia kembali kepangkuan – Nya dalam keadaan kotor.
Setelah itu ia pun menulis surat untuk abahnya dikampung bahwa ia hanya dapat mengirimkan uang sejumlah ini. Ia pun meminta maaf kepada orang tuanya. Disuratnya ia juga meminta agar menyampaikan salam rindunya untuk Katiman. Ia juga berharap mudah – mudahan dengan uang itu abahnya bisa membeli apa yang ia mau.
Akhirnya surat itupun tiba ditangan abah dan emaknya.
“ Bah . . . abah!” Panggil emak Romlah.
“ Apa sich pagi – pagi gini sudah teriak – teriak, “ Kata abah sambil mengucak matanya.
“ Ini bah anak kita Romlah mengirimkan kita surat,” Kata emak.
“ Halah sekedar surat saja senang, ada uangnya tidak ? ” Kata abah.
“ Bisa tidak abah ini sedikit saja mengkhawatirkan keadaan Romlah, tidak hanya uang, uang, dan uang!” Jelas emak.
“ Iya abah ini seperti tokoh kartun di spongebob saja, si tuan Krab,” Sahut sikecil Abdul.
“ Hah kalian berdua ini sama saja, mana berikan surat itu,” Kata abah tidak menghiraukan.
Begitu dibukanya abah kaget melihat segepok uang jatuh dari map coklat yang dibukanya.
“ Hah uang, uang, Romlah anakku memang pintar, sekarang juga aku akan membeli kambing di pasar,” Kata abah atau Juragan Somad tanpa membaca pesan anaknya. Untung saja emak mengambil dan membaca pesan anaknya itu.
Entah apa yang sebenarnya yang ada dihati abahnya itu. Tidakkah sedikit saja nalurinya sebagai ayah yang menghawatirka buah hatinya itu sudah hilang tertutup harta.
Naudzubillahimindzalik . . .
Ditempat lain kini Romlah sedang terbaring sakit. Tak henti – hentinya hati dan lidahnya itu mengucap asma – asma Allah. Sakit Romlah semakin hari semakin parah tanpa ada satupun orang yang memperhatikannya. Suatu hari ketika tante Susi masuk ke kamarnya.
“ Hey Romlah sampai kapan kau terus – terusan sakit seperti ini, bisa bangkrut saya nanti!” Kata tante Susi.
“ Tante aku tidak akan lama lagi merepotkanmu,” Kata Romlah.
“ Baguslah kalau begitu, “ Jawab tante Susi ketus.
“ Asalkan tante mau mendengar kata – kata terakhirku, “ Kata Romlah.
“ Kau ini seperti sudah akan mati saja, “ Kata tante Susi sedikit menampakkan kekhawatirannya.
“ Tante berhentilah dari pekerjaan ini, Allah sangat membenci ini semua tante, bertaubatlah tante selagi Allah masih mau menerima taubat kita, “ Kata Romlah.
Tante susi hanya terdiam dan meneteskan air matanya.
“ Satu lagi tante, apabila nanti aku akan menghadap Sang Khalik, aku ingin tante memulangkanku ke kampong. Biar abah dan emak masih mampu melihat ku dan mengantarku ke tempat peristirahatan terakhir ku, dan aku pun ingin selalu tetap hidup di hati mereka. Aku pun juga ingin, kalau Katiman tahu bahwa cintakku ini akan terpendam bersama jasad kun anti,” pinta Romlah sedikit terbata-bata.
“ Romlah, apa yang kamu bicarakan itu sayang? Kamu pasti kuat nak, maafkan tante sayang,” kata Tante Susi sambil menangis dan memeluk Romlah.
“ Aku sudah memaafkan tante, asal tante mau berubah demi masa senja tante, jangan sampai kemilau masa itu, akan sirna seperti harapan-harapan ku ini tante,” Kata Romlah.
“ Baik sayang, tante pasti mengabulkan keinginan mu,” sambil memeluk Romlah lebih erat lagi dan menangis.
“ Asshaduallaillahaillah wa ashaduanna muhammadarosullah,” lafaz terakhir yang di ucapkan Romlah dari bibirnya. Ia pun benar-benar telah menghadap Sang Khalik. Tante Susi tak kuasa menahan sedih dan seribu penyesalan atas apa yang pernah ia lakukan kepada gadis sebaik dan semulia Romlah.
Tante susi pun memenuhi pesan-pesan terakhir Romlah. Tidak hanya Tante Susi saja tapi abahnya juga benar-benar menyesali semua perbuatannya itu seumur hidupnya. Ia menjual sebagian ladangnya dan ia sumbangkan kepada rakyat-rakyat jelata. Ia benar-benar menyesali sega perbuatannya itu, sampai pada akhirnya ia pun tidak mampu mengicapkan kata maaf kepada putrinya itu hingga ajal menjemputnya.
Sedang Katiman, ia hanya mampu merelakan kepergian belahan jiwanya itu. Kilau-kemilau senjanya yang ingin ia rajut bersama Romlah kini sirna bersama takdir. Walaupun begitu cintanya takkan pernah mati untuk Romlah. Begitupun Romlah sampai akhirnya ia bersandar tenang, ia mampu membuktikan ketulusan cintanya itu. Kemilau senja yang mereka impikan, kini benar-benar tak kan terwujud. Biarlah takdir dan cintanya itu terkubur bersama angan-angan yang dulu mereka rajut. Semua tinggal kenangan, semua tinggal cerita, biarlah semuanya itu sirna bersama kemilau cahaya senja.

SEKIAN . . .

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More